Wajib Dibaca gan

Kamis, 09 April 2015

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

 


Misteri Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran

Candi Cetho
Candi Cetho
*
Candi Sukuh
Candi Sukuh
*
Candi Penataran
Candi Penataran
*
Written by : Turangga Seta
Date : Saturday, 03 April 2010 02:51 –
Last Updated : Wednesday, 26 May 2010 13:50
Di Indonesia terdapat berbagai macam candi. Terutama di pulau Jawa ada bermacam-macam candi yang tersebar mulai dari Jawa Timur sampai ke ujung Barat pulau Jawa.
Namun ada beberapa kejanggalan yang bisa dilihat di beberapa candi yang ada di Pulau Jawa. Kejanggalan terlihat dari patung dan relief yang ada.
Kalau pengukuran secara tahun oleh arkeolog benar maka banyak hal yang tidak masuk akal di dua candi yang telah kami teliti yaitu Candi Cetho , Candi Sukuh dan Candi Penataran.
Sebagian dari materi ini pernah dibawakan pada :
– Diskusi Panel : “Indonesia Asal Peradaban Dunia“, Sabtu Wage, 27 Maret 2010 di The Executive Club, Hotel Sultan – Jakarta
– Seminar : “Penemuan Purbakala dan Spiritualitas Indonesia“, Sabtu Wage, 20 Februari 2010 di Cafe Domus Newseum Indonesia – Jakarta
***

Turangga Seta

Written by : Turangga Seta
Day : Monday, 24 May 2010 17:01
Last Updated : Tuesday, 25 May 2010 19:02
Turangga Seta adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pelestarian budaya yang ada di Nusantara, serta mempelajari dan memetakan kembali kebesaran Nusantara yang sampai saat ini hanya dianggap sebagai mitos belaka.
Dalam perjalanannya, kami banyak menemukan benda-benda peninggalan purbakala yang dapat dijadikan bukti dan acuan tentang ada tidaknya mitos itu.
Di sisi lain, kami juga banyak menemukan aplikasi kearifan lokal yang ternyata sanggup digunakan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan bencana alam. Aplikasi kearifan lokal itu sudah kami aplikasikan di berbagai daerah, salah satu bentuk aplikasi kearifan lokal yang sudah terdokumentasi dengan lengkap adalah pada saat prosesi kami di titik 45 semburan lumpur panas Lapindo Brantas.
***
Written by : Turangga Seta
Day : Monday, 24 May 2010 17:01
Last Updated : Tuesday, 25 May 2010 19:02
Untuk yang berhubungan dengan sejarah Nusantara, kami berhasil menemukan bahwa:
Sejarah Nusantara tidak sekerdil sejarah yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah sekolah yang resmi atau literasi sejarah yang ada.

“Bahkan lebih dari itu, kami menemukan bukti tentang kebesaran leluhur Nusantara yang disekitar 10.000 tahun sebelum masehi sudah menguasai Dua Per-Tiga Bumi”.

Data yang kami peroleh terdapat di beberapa relief dan prasasti yang dapat dilihat dan dimengerti oleh semua orang.
Selain itu kami juga berhasil memetakan dan mendokumentasikan lebih dari 20 jenis aksara purba asli Nusantara yang dapat dipakai untuk membaca prasasti dan rontal-rontal kuno.
Berhubungan dengan pencitraan sejarah sebagai mitos, kami juga berhasil menemukan bukti bahwa beberapa cerita mitos itu adalah benar adanya, bukan hanya sekedar cerita pengantar tidur atau celoteh dongeng keheroikan belaka (seperti keberadaan Kerajaan Hastina Pura, Kerajaan Ngamartalaya, Kerajaan Dahana Pura, Kerajaan Gilingwesi, dll.)
Kami juga berhasil memetakan periodesasi terciptanya bumi sampai ke titik akhir menjadi tiga:
Jaman Kali [Jaman Besar], dan setiap Jaman Kali kami bagi menjadi tujuh.
Jaman Kala [Jaman Sedang], dan 1 Jaman Kala kami bagi menjadi tiga
Mangsa Kala [Jaman Kecil], serta berhasil mengurutkan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara yang mayoritas dihilangkan dari sejarah resmi.
Kebesaran Nusantara di masa lalu sangat erat kaitannya dengan kebesaran tradisi yang pernah ada di Nusantara. Namun sayangnya kebesaran tradisi kita itu telah dihilangkan dengan masuknya ajaran-ajaran baru.
Bahkan ajaran-ajaran baru cenderung mem-vonis tradisi kuno menjadi animisme, dinamisme dan politeisme. Padahal ada beberapa teknologi terapan masa lalu yang sangat efektif dan menjadi kekuatan kehormatan dari kebesaran leluhur kita yang sebetulnya masih sangat relevan untuk digunakan oleh generasi kita sebagai pewaris teknologi tersebut, namun kita tidak pernah menyadarinya.
Sebagai contoh, dalam Kitab Negara Kertagama terdapat aturan bahwa setiap Adipati harus menghadap ke pusat kerajaan [Kerajaan Induk] setiap 35 hari sekali.
Diandaikan bila hal itu terjadi di era Kerajaan Majapahit, Adipati dari Kadipaten Magadha [sekarang Bandung] untuk mencapai ke Trowulan pasti butuh waktu lebih dari dua minggu. Karena pada masa itu belum ada jalan raya dan mayoritas daerah sepanjang perjalanan masih berupa hutan belantara, juga belum terdapat sarana transportasi modern seperti saat sekarang ini.
Belum lagi para Adipati yang memerintah di luar pulau Jawa, seperti Adipati dari Kadipaten Tamgaram [sekarang Lampung] atau Adipati dari Kadipaten Madagascar [pulau dekat benua Afrika], bagaimanakah dan apakah sarana transportasi mereka untuk menghadiri Pisowanan Agung setiap 35 hari sekali itu.
Untuk perbandingan, saat gempa besar melanda Padang ternyata bantuan yang lewat darat sampa lebih dari sebulan kemudian belum bisa merata ke daerah Padang Pariaman, hingga hanya bisa didistribusikan melalui transportasi udara. Bisa dibayangkan teknologi jenis apakah yang dipakai oleh para Adipati kita pada jaman Majapahit untuk berpindah tempat pada saat itu, di saat mereka masih harus menembus medan yang tidak ada jalannya yang penuh dengan hutan belantara, bahkan sebagian harus menyeberangi lautan yang luas, sementara mereka sendiri masih harus menjalankan roda pemerintahan di Kadipaten-nya masing-masing.

“Maka kamipun kemudian sadar bahwa ada tekanan dari beberapa negara besar yang mendorong supaya kita melupakan dan menyepelekan tradisi asli kita, karena hanya dengan tradisi warisan leluhur, maka kita bisa bangkit dari keterpurukan, juga semangat nasionalisme generasi muda akan menjadi bangkit lagi kalau kita berhasil menunjukkan ke mata dunia bahwa kita bukanlah Negara kecil”.

Kita akan sanggup membantah setiap klaim dari Malaysia, karena terdapat juga bukti bahwa kita bangsa asli Nusantara bukanlah orang Melayu dan orang Melayu pada masa lalu hanyalah prajurit biasa dari wilayah yang menginduk kepada Nusantara di era kerajaan-kerajaan leluhur kita pada jaman dulu.
Untuk dampak positif ekonomi, dengan meng-ekspos kebesaran Nusantara akan ber-imbas ke bangkitnya peningkatan perekonomian di daerah yang candi-candinya menjadi bukti kebesaran Nusantara.
Candi-candi itu saat ini tersebar mulai dari Jawa Barat sampai ke Jawa Timur. Sangat disayangkan mencermati para arkeolog kita hanya menganggap cerita dalam relief-relief tersebut hanya sebatasan kisah Ramayana, Sudamala, dll., sehingga sejarah kisah aslinya tidak pernah dipelajari dan terungkap.
Saatnya untuk generasi muda kita berhak mengetahui betapa luhur dan terhormatnya sebetulnya bangsa kita ini.

Candi Cetho


***

Candi Sukuh


***

Candi Penataran

 
Semua gambar diatas, baik itu perbandingan dan persamaannya adalah NYATA. Jadi apakah semua diatas itu rekayasa? Think again…



*

VIDEO: Candi Sukuh and Ancient Alien Mystery


 

Indonesian Nusantara Empires

Lebih Dekat, ‘Cyber Forces’ Korea Utara Bisa Tembus 90% Pertahanan Internet Sejagad

hacker-internet header

Canggihnya 1.800 Hacker Korea Utara “Biro 121″ Bisa Lewati 90% Pertahanan Internet

spying tapping nsa electronics elektronik sadap header

Menurut seorang Komandan Pasukan Amerika yang ditugaskan di Korea, saat ini Korea Utara (Korut) telah meningkatkan kemampuan serangan cyber untuk menyerang Pasukan Amerika dan Korea Selatan.
“Korea Utara telah melatih hacker komputer dan mempekerjakan mereka untuk melakukan serangan cyber,” kata James Thurman, salah satu Jenderal Pasukan Amerika yang ditugaskan di Korea, saat menyampaikan laporan kepada parlemen di Washington. Korea Utara memang memiliki banyak hacker untuk merusak berbagai akses komputer.
“Korut bisa kapan saja menyerang Seoul ibukota Korsel dan memberikan efek kerusakan parah dan berbahaya, sebab penguasa di Pyongyang, Korut telah menyiapkan 60.000 pasukan terlatih untuk misi khusus yang memiliki kemampuan membobol jaringan komputer melalui internet,” kata Thurman.



Peretasan Sony Corporation pada Desember 2014


sony-hacked-again 


Badan penyelidik resmi Amerika telah melakukan investigasi mendalam terkait penyerangan cyber terhadap Sony Pictures atau lebih dikenal dengan sebutan “Sony hack” pada Desember 2014. Mereka mengaku telah menemukan bukti adanya keterlibatan Korea Utara dalam aksi peretasan tersebut.
Dilansir melalui New York Times, Kamis 18 Desember 2014 lalu, keamanan di Amerika melihat adanya jejak yang mengarah ke jaringan di Korea Utara.
Hal inilah yang dianggap sebagian orang sebagai alasan Sony membatalkan perilisan film ‘The Interview’. Sebelumnya Sony juga telah mengatakan tidak akan melempar film ‘The Interview’ ke pasar hiburan dunia. Sony mengaku sudah menghubungi jaringan bioskop ternama untuk menurunkan promo dan tayangan film tersebut.
‘The Interview’ sendiri merupakan sebuah film action comedy yang berkisah tentang dua jurnalis Amerika yang ditugaskan CIA untuk membunuh pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Film yang dibuat Sony Pictures Entertainment ini dianggap sebagai ancaman bagi Korea Utara. Dalam aksi peretasan itu, hacker juga meminta agar Sony membatalan penayangan film itu.
Dijelaskan NBC News, serangan cyber itu memang melibatkan Korea Utara, namun hal tersebut tidak dilakukan langsung dari negara itut. Tapi badan penyelidik resmi Amerika sangat yakin bahwa hacker Korut melakukan aksi itu berdasarkan perintah dari pihak resmi Korea Utara.


Sony hack Korea Utara korut Shutterstock


ABC News memberitakan Presiden Barack Obama memiliki perhatian khusus terhadap kasus ini. Namun begitu, kata dia, warga tidak perlu takut pergi ke bioskop hanya karena hal ini.
Amerika juga mempercayai adanya keterlibatan Biro 121 dibelakang aksi penyerangan ini. Biro 121 merupakan grup hacker resmi Korea Utara yang sangat hebat dan canggih.
“Serangan ini dilancarkan dengan melibatkan beberapa komputer yang telah terinfeksi virus, yang tersebar di beberapa lokasi diluar negerinya, termasuk komputer di Singapura, Thailand, Itali, Bolivia, Polandia dan Siprus,” ujar biro investigasi Amerika.
Temuan ini cukup mengejutkan. Pasalnya, sebelumnya, FBI mengatakan tidak ada sama sekali kontribusi dari Korea Utara dalam serangan ini. Aneh bukan? Ini sebagai bukti bahwa ‘rekam jejak’ saat pembobolan oleh hacker Korut tak mudah untuk ditemukan, bahkan oleh FBI, dan butuh waktu yang lama untuk menelitinya.


JangSeYul Korea

Jang Se Yul, pembelot Korea Utara yang kini di Korea Selatan.

Keberadaan unit-unit hacker Korut terungkap pula melalui keterangan para pembelot Korea Utara yang kini di Korea Selatan, salah satunya adalah Jang Se Yul.
Menurut Jang Se Yul, pria yang pernah mengikuti latihan prajurit cyber Korea Utara, Biro 121 beranggotakan 1.800 orang prajurit cyber yang digolongkan sebagai pasukan elit. Mereka adalah orang-orang berbakat yang telah dipilih dan dilatih sejak usia 17 tahun.
Selain dilatih, para peretas tersebut merupakan orang yang sangat dihargai di sana. Jang sendiri sempat merasakan berlatih bersama mereka di University of Automation, sebelum akhirnya membelot ke Korea Selatan enam tahun lalu.
“Teman saya (anggota Biro 121) yang berasal dari daerah terpencil bisa membawa seluruh keluarganya ke Pyongyang. Penghasilan seorang ahli cyber di Korea Utara sangat besar. Mereka adalah orang kaya di Pyongyang. Bagi mereka (Korea Utara), senjata terkuat adalah cyber. Di Korea Utara, ini (perang cyber) disebut sebagai perang rahasia,” ujar Jang pada Sabtu (20/12/2014) lalu.
Lebih Deket Dengan ‘Cyberunits’ , Tentara Cyber Korea Utara
Perlu anda ketahui juga, bahwa sistim pemerintahan Korea Utara terbagi dua, yaitu yang mengurusi pemerintahan adalah Partai Buruh Korea atau the Workers’ Party of Korea (WPK) sedangkan yang mengurusi pertahanan yaitu Komisi Pertahanan Nasional atau the National Defense Commission (NDC).
Salah satu kementerian dibawah Komisi Pertahanan Nasional bernama Kementerian Pertahanan Rakyat atau Ministry of People’s Armed Forces. Salah satu divisi dibawahnya bernama Biro Pengintai Umum atau Reconnaissance General Bureau (RGB),  yaitu departemen intelijen kelas atas yang dioperasikan oleh militer Korut.
RGB ini juga memiliki unit-unit khusus dibawahnya, salah satunya adalah tentara cyber Korea Utara atau biro operasi cyberoperations Korea Utara yang bernama Unit 121 atau Biro 121 atau Bureau 121 dan ada pula yang bernama Office 91.
Office 91 dianggap sebagai markas operasi hacker Korea Utara, meskipun sebagian besar hacker dan hacking dan infiltrasi ke sebuah jaringan dilakukan dari Unit 121. Unit itu memiliki akses satelitnya di luar negeri dan beberapa kantor pos diluar negaranya (outpost offices), terutama di kota-kota Cina yang dekat perbatasan Korea Utara

Korea Utara korut 02
Cyber Warrior Korea Utara

Salah satu pos tersebut dilaporkan berada di Hotel Chilbosan di Shenyang, sebuah kota besar yang berada sekitar 150 mil dari perbatasan.
Operasi ketiga, yang disebut Lab 110, berpartisipasi dalam banyak pekerjaan yang sama.
Selain dibawah Komisi Pertanahan Nasional atau the National Defense Commission (NDC), ada juga beberapa cyberunits pemerintah Korut lain yang berada di bawah Partai Buruh Korea atau he Workers’ Party of Korea (WPK) seperti Unit 35, Unit 204 dan Office 225.
Unit 35 bertanggung jawab untuk melatih cyberagents dan mengetahui cara untuk menangani operasi cyberinvestigations domestik.
Unit 204 mengambil bagian dalam masalah spionase secara online dan perang psikologis.
Office 225 melatih agen untuk menjalankan misi di Korea Selatan yang kadang-kadang dapat memiliki komponen cyber lainnya.
Namun intelijen barat meyakini masih ada beberapa unit-unit cyber intelijen lainnya yang sangat rahasia dan belum diketahui dunia luar.

Pelatihan Cyber Unit Korea Utara

Sistem sekolah di Korut menekanan pentingnya matematika untuk siswa dari usia sangat muda. Yang terlihat paling berbakat akan diberikan akses ke komputer di mana mereka dapat mulai berlatih keterampilan pemrograman. Jika mereka cukup baik, maka mereka akan disekolahkan ke salah satu dari segelintir sekolah yang memiliki departemen spesialis bidang komputer.
Biasanya tempat pelatihannya berada di Kim Il Sung University, sebuah universitas paling bergengsi di negara itu. Selian disana, para calon hacker juga dilatih di Kim Chaek University of Technology atau di Mirim College. Namun untuk yang terakhir kurang banyak diketahui intelijen meskipun tempat itu diyakini sebagai sekolah spesialis cyberwarfare.

Kim Il Sung University Korea Utara

Students at Kim Il-sung University in Pyongyang. August 2010.


Para siswa belajar teknik pemrograman umum dan juga akan mengkhususkan diri dalam disiplin ilmu seperti cyberwarfare. Setelah lulus, mereka kadang-kadang juga dikirim ke luar negeri untuk belajar lebih lanjut.
Saat diluar negeri itulah, dengan koneksi internet yang terbuka dan anonimitas jaringan asing, mereka dapat mulai berpartisipasi dalam forum hacker di internet, mengembangkan perangkat lunak berbahaya (malicious software) dan sekaligus menguji keterampilan mereka.
Selama beberapa tahun terakhir, diperkirakan jumlah mereka yang sekolah telah berubah menjadi beberapa ribu siswa (perkiraan berkisar dari sekitar 2.000 menjadi sekitar 6.000), yang kini telah menjadi Tentara Cyber atau cyberforces Korea Utara.


Jaringan Internasional

Yang menjadi kesihan sekaligus menakjubkan adalah bahwa Korea Utara hanya memiliki satu koneksi ke Internet, sehingga serangan dari dalam negerinya akan sangat mudah untuk dilacak oleh dunia luar. Tapi akal manusia akan selalu mencari jalan keluar.
Karena itulah, maka hacker-hacker Korut dikirim menyebar di planet ini untuk dapat menggunakan komputer dimanapun di seluruh dunia untuk dapat tetap melancarkan serangannya yang mematikan terhadap server-server dimanapun berada dan tanpa ketahuan. Hebat ya.
Seringkali masuknya gangguan berupa hacking pada PC tidak diketahui oleh pemiliknya. Bahkan mereka tidak tahu komputernya telah terinfeksi oleh malware dari  hacker asal Korea Utara itu.
Beberapa cara serangan awalnya, hacker-hacker Korut saling membantu untuk membangun sebuah jaringan atau network mereka dimanapun mereka berada, maka komputer yang diperkirakan telah terinfeksi oleh mereka, akan disetir atau diambil-alih oleh beberapa kantor pos mereka yang berada di tempat-tempat diluar negaranya (outpost offices), seperti di China, Rusia dan India.


Korea Utara korut 04

Anak-anak sekolah dasar di Korea Utara sangat nasionalis. Yang pintar  matematika akan dibiayai disekolahkan untuk menjadi hacker kelas dunia..


Operasi dan Penyerangan

Ketika mencari data, info, atau rekam jejak dan chace, dari siapa sebenarnya pelaku serangan cyber kadang sangat sulit, namun sejumlah serangan dalam beberapa tahun terakhir telah dituduhkan kepada Korea Utara.
Beberapa diantaranya seperti peristiwa Sony hack atau peretasan Sony Corp. pada Desember 2014 yang dituduhkan ke Korut. Mereka telah mencuri data dan berhasil mengantongi keuntungan yang sangat tinggi dari nilai informasi dan data yang telah mereka curi.
Akan tetapi hal ini hanya mendapatkan sedikit perhatian dan tujuannya lebih untuk mendapatkan uang daripada menyebabkan gangguan. Tapi toh, hasilnya lumayan,ribuan data dan info sudah dikantongi mereka dari Sony.
Selain Sony hack, beberapa serangan cyberwarfare  yang dituduhkan barat pernah dilakukan Korut diantaranya:
Juli 2009 Penyerang menargetkan situs pemerintah di AS dan Korea Selatan dalam skala besar berupa distributed denial of service attack (dDOS attack) yang mana serangan ini kemudian disalahkan pada pihak Korea Utara.
Maret 2011 Melakukan serangan yang dijuluki 10 Days of Rain,” terhadap website utama pemerintah Korea Selatan dan situs yang dioperasikan oleh militer AS di Korea Selatan, ditargetkan dalam serangan dDOS attack.
April 2011 Serangan terhadap Bank Nonghyup Korea Selatan ditargetkan dalam serangan dDOS yang kemudian ditelusuri ke Korea Utara dan terkait dengan serangan sebelumnya.
Agustus 2011 Polisi Korea Selatan menuduh lingkaran hacker Korea Utara telah  mencuri sekitar US$ 6 juta dari transaksi penjualan sebuah game online.
November 2011 Seorang hacker mencoba untuk cracking sistem email dari Korea University’s Graduate School of Information Security di Korea Selatan, yang pada akhirnya Korea Selatan menyalahkan kejadian ini kepada pihak Korea Utara.


Korea Utara korut 03


Sistem sekolah di Korut menekanan pentingnya matematika untuk siswa dari usia muda. Yang terlihat paling berbakat diberikan akses ke komputer di mana mereka dapat mulai berlatih keterampilan pemrograman. Jika mereka cukup baik, maka mereka akan disekolahkan ke salah satu dari segelintir sekolah yang memiliki departemen spesialis bidang komputer. (pict: Martyn Williams)
Juni 2012 sebuah koran Korea Selatan yang konservatif, Joong Ang Ilbo terkena serangan cyber dan mereka berhasil menghancurkan database koran itu. Seminggu sebelumnya, Korea Utara telah mengancam koran itu atas liputan buruk mengenai negaranya.
Maret 2013 Sebuah serangan cyber besar yang kemudian menyalahkan Korea Utara pada bulan ini, berhasil melumpuhkan jaringan beberapa TV utama Korea Selatan. Sebuah jaringan ATM bank juga terkena imbasnya dalam serangan tersebut dan menghapus data pada hard drive komputer.
Serangan kedua mengobrak-abrik server DNS situs dan web pemerintah Korsel yang mengakibatkan jaringannya terputus alias offline selama beberapa jam. Akibatnya pada sekitar waktu yang sama, koneksi Korea Utara dengan internet global langsung terputus selama 36 jam.
Maret 2013 Menanggapi serangan pada bulan ini, kelompok hacker Anonymous menargetkan situs Korea Utara dan berhasil membobol sebuah portal berita besar Korea Utara, lalu hackers menampilkan nama berikut rincian akun dari ribuan pelanggan (subscribers) dan anggota dari webnya.


Korea Utara korut


Juni 2013 Kini giliran hacker Korut yang menampilkan nama, nomor jaminan sosial dan informasi pribadi lainnya dari ribuan anggota pasukan bersenjata Amerika Serikat yang ditempatkan di Korea Selatan secara online.
Juni 2013 Server DNS pemerintah Korea Selatan ditargetkan oleh serangan dDOS attack Korut. Kesamaan ditemukan dalam kode yang menghubungkannya dengan serangan pada bulan Maret sebelumnya.
Desember 2013 Polisi Korea Selatan mengatakan bahwa agen Korea Utara berada di balik serangan  spear-fishing attack atau tombak pancing” di komputer seorang pembelot terkemuka.
November 2014 Agen mata-mata atau spy agency dari Korea Selatan mengatakan bahwa hacker Korea Utara telah menanam malware atau virus berbahaya pada sekitar 20.000 smartphone.
Desember 2014 – Data dari perusahaan Sony Coorporation diretas, dan FBI menuduh secara sepihak bahwa Korea Utara adalah pelakunya. Semua ini karena masalah film The Interview yang menceritakan ingin dibunuhnya Presiden Korea Utara itu. Akibatnya film yang rencananya akan diputar saat menjelang Natal 2014  itu, ditarik kembali dan tidak diris. Namun Korea Utara menolak tuduhan bahwa pihaknya yang melakukannya.
Mereka berhasil mencuri data dan mengantongi keuntungan yang sangat tinggi, bahkan desain smartphone Sony Xperia dari jenis yang belum dirilis juga ikut terambil. Inilah yang membuat banyak orang menduga bahwa hal ini bertujuannya untuk mendapatkan teknologi, informasi dan uang daripada menyebabkan gangguan.


Canggihnyan Malware Peretas Sony Corp. besutan Korea Utara


big brother selular

Illustrasi rekam jejak hasil hacking


Peretasan yang menimpa studio film Hollywood Sony Pictures difasilitasi oleh program jahat alias malware canggih.
Saking canggihnya, pihak Federal Bureau of Investigation (FBI) yang menyelidiki kasus tersebut mengatakan bahwa malware tersebut bisa membobol sebagian besar sistem keamanan komputer yang ada saat ini.
Malware yang dipakai mungkin bisa melewati 90 persen pertahanan internet dunia yang dipakai oleh sektor swasta saat ini, bahkan mungkin juga menyusup ke sistem pemerintah,” ujar Asisten Direktur Divisi Cyber FBI, Joseph Demarest, Sabtu (13/12/2014).
Demarest menambahkan bahwa malware yang dipakai untuk meretas Sony Pictures dibuat dengan teknik tinggi, serta didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki niatan “serius” untuk menyerang.
“Berdasarkan upaya investigasi sejauh ini, kami bisa mengatakan bahwa mereka (para peretas Sony Pictures) sangat terorganisir dan gigih,” katanya lagi.
Pernyataan Demarest senada dengan Kevin Mandia, kepala firma keamanan Mandiant yang disewa Sony untuk ikut menyelidiki penyerangan yang menimpanya.
Mandiant berujar bahwa serangan yang dilakukan “dengan strategi yang tidak biasa” dan “tidak mungkin diantisipasi oleh Sony Pictures”. Peretas Sony Pictures berhasil mencuri sejumlah besar data dengan ukuran total melebihi 100 GB dari sistem internal Sony.


https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/2/27/The_Interview_2014_poster.jpg

Poster film The Interview dari Sony Pictures.


Data yang dicuri termasuk informasi-informasi sensitif, seperti film yang belum dirilis, serta data pribadi milik puluhan ribu karyawan Sony Pictures, bahkan desain smartphone Sony Xperia dari jenis yang belum dirilis.
Tuduhan secara sepihak menurut versi FBI dan AS, dalang di balik serangan ini diduga adalah negara Korea Utara yang mengecam film The Interview dari Sony Pictures.
The Interview adalah sebuah film komedi aksi politik Amerika 2014 yang disutradarai oleh Evan Goldberg dan Seth Rogen, dan ditulis oleh Dan Sterling.
Film tersebut dibintangi oleh Rogen dan James Franco sebagai jurnalis yang diinstruksikan untuk membunuh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (diperankan oleh Randall Park) setelah sukses membukukan sebuah wawancara dengannya.
Alur ceritanya secara singkat: Seorang jurnalis selebriti dan produsernya (Franco dan Rogen) mengadakan sebuah wawancara dengan Kim Jong-un (Park) dan diinstruksikan oleh CIA untuk membunuhnya.
Meski menolak disebut sebagai dalang peretasan, pemerintah AS secara resmi sudah mengumumkan Korea Utara sebagai pelakunya. Tapi, Korea Utara menolak disebut sebagai dalang peretasan Sony Pictures Entertainment (SPE) yang terjadi pada Desember 2014 lalu itu. Hingga kini masih belum jelas betul siapa yang bertanggung jawab atas insiden peretasan Sony Pictures.

(sumber: pcworld.com , Martyn Williams Senior U.S. Correspondent, IDG News/ ABC News/ Bloomberg/ New York Times/ Kompas.com/ DailyMail/ ArsTechnica)

kim-jong-un-north-korea
North Korean leader Kim Jong Un (3rd L) salutes as he and his wife Ri Sol Ju walk past the guard of honour upon arriving for the 2014 Combat Flight Contest among commanding officers of the Korean People’s Air Force in this undated photo released by North Korea’s Korean Central News Agency (KCNA) in Pyongyang May 10, 2014. REUTERS/KCNA (NORTH KOREA – Tags: POLITICS MILITARY TRANSPORT) ATTENTION EDITORS – THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS IMAGE. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. THIS PICTURE IS DISTRIBUTED EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS. NO THIRD PARTY SALES. NOT FOR USE BY REUTERS THIRD PARTY DISTRIBUTORS. SOUTH KOREA OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN SOUTH KOREA <– when REUTERS like Kim Jong Un itself

Konspirasi “The Bali-Nine”: Mereka Sengaja Dijebak Polisi dan Intelijen Australia Sendiri!

Konspirasi “The Bali-Nine”: Mereka Sengaja Dijebak Polisi dan Intelijen Australia Sendiri!

Bali nine

Konspirasi “The Bali-Nine” dan Corby:
“Bali Nine” dan Corby Sengaja Dijebak Polisi dan Intelijen Australia Sendiri!

On April 8, the same day Rush flew out of Australia, the AFP (Australian Federal Police) sent a letter to the Indonesian National Police, headed “Subject: Heroin couriers from Bali to Australia.” (theaustralian.com.au).
Tahukah anda, bahwa kasus “Bali Nine” dan Corby sengaja dijebak oleh pihak kepolisian Australia dan intelijen Australia sendiri? Pada artikel ini, mari kita awali dulu dari kasus Corby.
Schapelle Leigh Corby (lahir 10 Juli 1977) adalah seorang mantan pelajar sekolah kecantikan dari Brisbane, Australia yang ditangkap membawa ganja dalam tasnya yang tak begitu terlarang di Autralia, namun sangat terlarang di Indonesia saat ia berada di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Indonesia pada 8 Oktober 2004 lalu.
Dalam tas Corby ditemukan 4,2 kg ganja, yang menurut Corby, bukan miliknya. Dia mengaku tidak mengetahui adanya ganja dalam tasnya, sebelum tas tersebut akhirnya dibuka oleh petugas bea cukai di Bali, namun pernyataan ini ditentang oleh petugas bea cukai yang mengatakan bahwa Corby mencoba menghalangi mereka saat akan memeriksa tasnya.

https://indymedia.org.au/files/corby-5801194.jpg 

Bapak kandung Schapelle Corby, Michael Corby, sebelumnya pernah tertangkap basah membawa ganja pada awal tahun 1970-an.
Corby ditemukan bersalah atas tuduhan yang diajukan terhadapnya dan divonis hukuman penjara selama 20 tahun pada 27 Mei 2005. Selain itu, ia juga didenda sebesar Rp.100 juta.
Pada 20 Juli 2005, Pengadilan Negeri Denpasar kembali membuka persidangan dalam tingkat banding dengan menghadirkan beberapa saksi baru.
Kemudian pada 12 Oktober 2005, setelah melalui banding, hukuman Corby dikurangi lima tahun menjadi 15 tahun. Pada 12 Januari 2006, melalui putusan kasasi, MA memvonis Corby kembali menjadi 20 tahun penjara, dengan dasar bahwa narkotika yang diselundupkan Corby tergolong kelas I yang berbahaya.
Corby Merasa Dijebak, Tasnya Ditukar Milik Orang Lain
Corby dijanjikan akan menerima hukuman jauh lebih ringan jika mengakui bahwa ganja yang berada di dalam tasnya adalah memang miliknya. Namun hal itu ditolak Corby. Mengapa? Karena Corby merasa telah dijebak!
Corby tetap tak pernah mau mengakui bahwa tas dan ganja yang berada di dalamnya, adalah miliknya. Jadi menurut Corby, tas itu bukan kepunyaannya, alias ditukar, dan ganja didalamnya juga bukan miliknya.
Keputusan Corby tak bergeming, walau dijanjikan hukuman lebih ringan. Dengan keyakinannya ia tetap menolak dan selalu menolak, bahwa tas itu bukan miliknya, namun telah ditukar dengan tas orang lain yang sama dengan tasnya.
Jika benar bahwa tasnya telah ditukar dengan tas orang lain yang sama, lalu muncul pertanyaan, siapa yang telah menukarnya? Siapakah yang menjebaknya?
Ada Pihak Ketiga Yang Ingin Mengadu Domba
Di Australia pada 3 Juni 2005 lalu, sebuah paket berisikan serbuk mencurigakan, yang akhirnya dinyatakan tidak berbahaya, dikirimkan ke Gedung Parlemen Australia dan dialamatkan ke Menlu Australia, Alexander Downer.
Paket tersebut ditemukan dalam pemeriksaan rutin. Akibat insiden ini, tempat penerimaan barang di 
Gedung Parlemen Australia ditutup untuk sementara waktu.


https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/85/KerobokanPrison.jpg/320px-KerobokanPrison.jpg

Lapas Krobokan, Denpasar, Bali, tempat Corby dan sebagian “Bali Nine” 
 dipenjara (wikimedia).


Pada tanggal dan hari yang sama pula, sebuah surat berbau menyengat dikirimkan ke Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Indonesia. Akibatnya, Kepala Pengadilan Negeri Denpasar, Nengah Suryadi, yang menerima surat tersebut, mengaku merasa pusing-pusing.
Setelah diperiksa lebih lanjut oleh Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Denpasar, tidak ditemukan zat beracun dalam surat tersebut.
Jika anda teliti, itu baru satu contoh kasus saja dari beberapa hal ganjil lainnya pada kasus ini, dalam hal ini ada pihak ketiga, yang ingin memancing dalam kekeruhan air, lalu memanfaatkan momen ini.


Kronologi Peristiwa Kasus Corby


• 8 Oktober 2004: Schapelle Corby lepas landas dari Brisbane International Airport, Brisbane, Australia dengan pesawat Qantas QF501, kemudian transit di Sydney, naik pesawat Australian Airlines AO7829 menuju Denpasar, dan mendarat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Setelah mendarat di Denpasar, Corby ditahan karena petugas bea cukai Bandara Ngurah Rai menemukan ganja seberat 4,2 kg dalam tas milik Corby.

• ? – 2005: Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Perth, Australia menerima surat ancaman pembunuhan yang disertai sebutir peluru.

• 27 Mei 2005: Corby diputuskan harus menjalani hukuman penjara 20 tahun serta ditambah denda sebesar Rp 100.000.000, karena melanggar pasal 82, ayat 1a, UU nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika. Sidang putusannya disiarkan langsung di dua stasiun televisi di Australia.

• 1 Juni 2005: Sebuah amplop berisikan serbuk putih, yang dikirimkan dari negara bagian Victoria, Australia, tetapi akhirnya dinyatakan tidak berbahaya, dikirimkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra, Australia, sehingga mengakibatkan seisi gedung kedutaan harus dikosongkan dan kedutaan ditutup selama beberapa hari. Perdana Menteri Australia, John Howard, segera meminta maaf kepada pemerintah Indonesia dan mengatakan akan segera mengusut kasus tersebut serta mencari siapakah pelakunya.

• 3 Juni 2005: Sebuah paket berisikan serbuk mencurigakan, yang akhirnya dinyatakan tidak berbahaya, dikirimkan ke Gedung Parlemen Australia dan dialamatkan ke Menlu Australia, Alexander Downer. Paket tersebut ditemukan dalam pemeriksaan rutin. Akibat insiden ini, tempat penerimaan barang di Gedung Parlemen ditutup untuk sementara waktu.

• 3 Juni 2005: Untuk kedua kali, sebuah surat berbau menyengat dikirimkan ke Pengadilan Negeri Denpasar. Akibatnya, Kepala Pengadilan Negeri Denpasar, Nengah Suryadi, yang menerima surat tersebut, mengaku merasa pusing-pusing. Setelah diperiksa lebih lanjut oleh Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Denpasar, tidak ditemukan zat beracun dalam surat tersebut.

• 7 Juni 2005: Lagi untuk kali ketiga, sebuah amplop berisikan serbuk putih, yang diperkirakan juga dikirimkan dari negara bagian Victoria, Australia, tetapi diperkirakan tidak berbahaya, dikirimkan ke KBRI. Akibat insiden ini, KBRI ditutup untuk sementara sampai waktu yang belum ditentukan.

• 9 Juni 2005: Paket-paket mencurigakan kembali dikirimkan ke kedutaan-kedutaan besar di Australia. Kali ini, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan di Australia dikirimi paket-paket mencurigakan. Selain itu, Gedung Parlemen Australia juga kembali dikirimi bungkusan mencurigakan. Akibat kejadian ini, sebagian gedung kedutaan-kedutaan tersebut dan sebagian Gedung Parlemen Australia ditutup untuk umum.

• 12 Oktober 2005: Hasil banding di pengadilan mengurangi jumlah hukuman menjadi 15 tahun.

• 12 Januari 2006: Hasil kasasi di MA mengembalikan hukuman menjadi 20 tahun.

Perspektif Warga Australia: Corby sial, kopernya diisi ganja oleh orang lain
Kasus Corby menarik perhatian yang besar di Australia akibat liputan media yang luas. Banyak dari warga Australia yang bersimpati dengan Corby yang digambarkan oleh media di sana sebagai orang yang “sial”, karena kopernya diisi ganja oleh orang lain. Beberapa orang bahkan sampai mengeluarkan pernyataan bahwa mereka akan memboikot Bali dan menyarankan agar warga Australia tidak berkunjung ke sana.
Selain itu, ada pula yang meragukan kemampuan sistem pengadilan di Indonesia yang berbeda dari Australia. Di Indonesia, terdakwa harus membuktikan bahwa dia tidak bersalah sedangkan di Australia, pihak penuntutlah yang harus membuktikan bahwa terdakwa bersalah. Sistem Indonesia ini merupakan warisan dari zaman Belanda dan karena itu, dianggap “ketinggalan zaman” dan “tidak adil”.
Ada pula yang menganggap bahwa ganja hanyalah tumbuhan dan karena efek merusaknya pun lebih rendah, seharusnya tidak digolongkan bersama dengan psikotropika tingkat I lainnya, seperti heroin, dan lainnya. Bahkan di beberapa negara lain, ganja sudah dilegalkan karena manfaatnya bagi kesehatan yang tak dipunyai oleh tumbuhan lain, walaupun dengan aturan yang ketat.
Meskipun begitu, ada juga warga Australia yang mendukung agar Corby dihukum. Mereka berpendapat bahwa hal tersebut perlu dilakukan agar menjadi peringatan bagi warga sana yang berniat menyelundupkan obat-obatan terlarang ke luar negeri.

Perspektif Warga Indonesia: mengecam keras tindakan teror terhadap KBRI di Australia
Awalnya, kebanyakan rakyat Indonesia dingin-dingin saja dalam menanggapi kasus ini. Kalaupun ada protes, kebanyakan terjadi di media-media massa dalam bentuk (artikel) protes, di mana para tokoh mengecam keras tindakan teror terhadap KBRI di Australia, selain juga mengecam pandangan ekstrem minoritas warga Australia tersebut (atau warga Australia sendiri). Selain itu, ada juga beberapa tokoh yang menyarankan Pemerintah Indonesia untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Pemerintah Australia.
Selain kecaman di media, ada juga yang melakukan aksi unjuk rasa secara damai, misalnya menuntut dihukum matinya Corby, menuntut pemutusan hubungan diplomatik dengan Australia, dsb. Selain hal-hal di atas, tidak ada aksi anarkis dan teror terhadap aset Australia di Indonesia.
Selain itu, beberapa pakar hukum Indonesia seperti Indriyanto Seno Adji, Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia, dalam opininya di Kompas mempertanyakan pendekatan hukum atas kasus ini. Menurutnya, pembuktiannya tidaklah sekadar memiliki atau menguasai ganja/marijuana tersebut, tetapi bagaimana dan dengan cara apa marijuana itu bisa berada dalam penguasaan Corby sebagai alas bukti ada tidaknya unsur tanpa hak dan melawan hukum.
Artinya, kalau tidak ada bukti tentang bagaimana dan dengan cara apa marijuana itu berada dalam penguasaan Corby, tidaklah ada kesalahan dan melawan hukum pada diri Corby. Inilah pendekatan ajaran dualistis yang menghendaki adanya kebenaran materil dengan mempertanyakan bisa tidaknya seseorang dipertanggungjawabkan secara pidana.
Hal lainnya adalah, kasus ini sudah bergulir sedemikian rupa, namun kenapa media-media lokal ‘titipan politikus dan titipan asing’ tetap membahasnya? Seharusnya yang dibahas adalah mengenai cacatnya hukum di Indonesia, bukan lagi membahas tentang sebuah keputusan yang justru memang berada di rel hukum itu sendiri.
Remisi untuk Corby
Secara keseluruhan, Corby mendapatkan remisi selama 27,5 bulan untuk masa kurungan awal selama 20 tahun.
• Agustus 2006: Dua bulan pada Hari Kemerdekaan Indonesia.
Desember 2006: Satu bulan pada hari Natal.
• 2007: Corby tidak mendapatkan remisi Hari Kemerdekaan dan Natal setelah ketahuan memiliki telepon genggam. Peraturan kunjungan tiperketat setelah muncul sebuah operator wisata abal-abal 
beriklan bahwa wisatawan bisa mengambil foto bersama Corby dengan membayar sejumlah uang.


surat remisi corby-schapelle-letter

The decision letter from The President of The Republic of Indonesia to Schapelle Corby. (Picture: Bintoro Lukman, via: dailytelegraph.com.au)


• Agustus 2008: Tiga bulan pada Hari Kemerdekaan.

• Agustus 2009: Empat bulan pada Hari Kemerdekaan.

• Agustus 2010: Lima bulan pada Hari Kemerdekaan.

• Desember 2010: 45 hari.

• Agustus 2011: Lima bulan pada Hari Kemerdekaan.

• Agustus 2012: Enam bulan pada Hari Kemerdekaan.

• Februari 2014: Bebas bersyarat.

Corby mendapatkan pembebasan bersyarat pada 7 Februari 2014 dan dibebaskan tanggal 10 Februari 2014 setelah menjalani masa hukuman sembilan tahun di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan.
Putusan ini mewajibkan Corby tinggal di Bali dan mengikuti peraturan lain yang ditetapkan pihak lembaga pemasyarakatan serta wajib lapor kepada pihak berwenang setiap bulannya sampai benar-benar dibebaskan bulan Juli 2017.

Kasus “The Bali Nine”

https://i1.wp.com/resources1.news.com.au/images/2009/08/16/1225762/119861-corby-lawrence-039-out-of-jail-sooner-039-.jpg

Renae Lawrence (kiri) salah satu anggota Bali Nine dan Corby (kanan) bertemu di lapas Krobokan (news.com.au)


Kini kita masuk ke kasus Bali Nine. Masih ingatkah anda tentang ‘the Bali Nine’?
Bali Nine adalah sebutan yang diberikan media massa kepada sembilan orang Australia, yang ditangkap pada 17 April 2005 di Bali.
Mereka, kesembilan anggotanya ditangkap dalam usahanya untuk menyelundupkan heroin seberat 8,2 kilogram! Dari Indonesia ke Australia.
Kesembilan orang dalam sindikat perdagangan heroin yang dikenal dengan julukan “the Bali Nine” tersebut adalah:
1. Andrew Chan – disebut pihak kepolisian sebagai “godfather” kelompok ini
2. Myuran Sukumaran
3. Si Yi Chen
4. Michael Czugaj
5. Renae Lawrence
6. Tach Duc Thanh Nguyen
7. Matthew Norman
8. Scott Rush
9. Martin Stephens

Perbedaan Antara kasus Corby dan The Bali Nine
Ada beberapa perbedaan kasus diantara keduanya, diantaranya adalah:
1. Kasus Corby:
– Menyelundupkan ganja atau marijuana seberat 4,2 kg dari Australia ke Indonesia.
– Dijatuhi hukuman penjara 20 tahun dan didenda Rp.100 juta, akhirnya bebas namun bersyarat.
2. Kasus Bali Nine:
– Menyelundupkan heroin seberat 8.3 kg dari Indonesia ke Australia.
– Dijatuhi hukuman mati dan dua diantaranya hukuman penjara seumur hidup.
Para Bandar Narkoba Sengaja Dijebak Pihak Kepolisian dan Intelijen Australia Sendiri!
Beberapa pihak dan “orang dalam” dari Australia yang tak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa para bandar narkoba yang tergabung dalam Bali Nine tersebut sengaja dijebak oleh pihak Australia karena di negara itu tak ada hukum yang kuat untuk membuat para pengedar narkoba itu merasa jera.
Bahkan pihak AFP telah mengetahui bahwa para kurir heroin itu sedang terbang menuju ke Bali. Hal itu juga masuk dalam tulisan di media Autralia:
On April 8, the same day Rush flew out of Australia, the AFP (Australian Federal Police) sent a letter to the Indonesian National Police, headed “Subject: Heroin couriers from Bali to Australia.” – (theaustralian.com.au, August 27, 2010).
Pada tanggal 8 April, dihari yang sama Rush terbang dari Australia, AFP (Kepolisian Federal Australia) mengirimkan surat kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia, berjudul “Subjek: Kurir heroin dari Bali ke Australia” – (theaustralian.com.au, 27 Agustus 2010, lihat berita versi JPEG).
Selain itu, masih melalui suratnya, AFP juga meminta kepda Polri agar mengawasi gerak-gerik para penyelundup heroin itu dan mencegatnya.
The AFP (Australian Federal Police) letter requested the INP (Indonesian Noational Police) to attempt to keep the group under surveillance, identify the source of the drugs, and obtain as much evidence and intelligence as possible to help the AFP nail the organisers in Australia, other than Chan. The most crucial paragraph of the AFP letter advised the INP: “should they suspect that Chan and/or the couriers are in possession of drugs at the time of their departure, that they take what action they deem appropriate.” – (theaustralian.com.au, August 27, 2010).
Surat AFP (Kepolisian Federal Australia) meminta Polri mencoba untuk menjaga kelompok itu dibawah pengawasan, mengidentifikasi sumber narkotika, dan mendapatkan banyak barang bukti dan dapat memungkinkan intelijen (Indonesia -red) untuk membantu AFP menangkap gembongnya di Australia, selain Chan. Paragrap yang paling penting dari surat AFP menyarankan Polri: “mengharuskan tersangka mereka bahwa Chan dan / atau kurir berada dalam kepemilikan narkoba pada saat keberangkatannya, bahwa mereka (kepolisian Indonesia -red) mengambil tindakan apa yang mereka anggap tepat.” – (theaustralian.com.au, 27 Agustus 2010, lihat berita versi JPEG).


How the AFP trapped the Bali Nine zoomed


Salah satu terpidana “Bali Nine”, Scott Rush, saat berada diruang pengadilan Bali. Kepolisian Australia (AFP) sudah tahu tentang kurir-kurir heroin itu dan sengaja menangkapnya di wilayah Indonesia agar tak kembali ke Australia dan dapat diadili dengan lebih berat. Klik pada lnik untuk melihat seluruh artikelnya: lihat berita di weblihat berita versi JPEG (sumber: theaustralian.com.au)
Empat hari kemudian, pada tanggal 12 April 2005, surat kedua dikirim oleh AFP kepada rekan-rekan mereka yaitu kepolisian Indonesia, komplit dengan memberikan tanggal, waktu dan rincian penerbangan dari kelompok yang akan kembali ke Australia. Chan dan empat kurir lainnya akan terbang kembali ke Australia pada tanggal 14 April, sementara Rush, Nguyen dan Czugaj akan terbang dua hari kemudian, pada hari Sabtu tanggal 16 April.
Surat ini dari petugas penghubung senior AFP di Bali, Paul Hunniford, menyarankan:
“If arrests are made [in Indonesia] on 14 April, it is likely that Nguyen, Czugaj and Rush will become suspicious of the arrest and decide not to attempt to board the Saturday flight with narcotics. I therefore request that you consider searching Nguyen, Czugaj and Rush soon after the first group are intercepted.” – How the AFP trapped the Bali Nine, August 27, 2010 (theaustralian.com.au).
“Jika penangkapan dibuat [di Indonesia] pada 14 April, ada kemungkinan bahwa Nguyen, Czugaj dan Rush akan menjadi curiga terhadap penangkapan itu dan memutuskan untuk tidak naik pada penerbangan dihari Sabtu dengan membawa narkotika. Karena itu saya meminta Anda mempertimbangkan mencari Nguyen, Czugaj dan Rush setelah kelompok pertama dicegat.” – – How the AFP trapped the Bali Nine, August 27, 2010.
Surat AFP tersebut disegel, dan mengubah nasib para penyelundup heroin oleh para warga Australia itu, yang akhirnya dikenal hingga kini sebagai kelompok “The Bali Nine”.
Orang tua Rush dan Lawrence kemudian juga mengkritik pihak kepolisian Australia yang ternyata telah mengetahui rencana penyelundupan itu.
“The parents of Rush and Lawrence criticised the AFP (Australia Federal Police) for allowing the Indonesian police to arrest the nine rather than allowing them to fly to Australia and arresting them in Sydney upon their return.” (wikipedia).
Ayah terpidana Lawrence, Bob Lawrence, mengatakan pada bulan Oktober 2005 lalu menyatakan bahwa ia ingin bertemu muka dengan Keelty setelah belajar dari komentar yang dibuat oleh Lee Rush.
“As far as I’m concerned, and excuse the expression, [Keelty] is an arsehole. These kids were forced into this … they should have been either arrested at the airport here or followed to get the big guys. I don’t know how they can sleep at night … even if [the Bali Nine] were guilty of doing it willingly, it still doesn’t deserve the death penalty.” — Bob Lawrence, father of Renae Lawrence, October 2005. (theage.com.au).
“Sejauh yang saya ketahui, dan alasan ekspresi, [Keelty] adalah bandit sialan. Anak-anak ini dipaksa melakukannya … mereka seharusnya lebih baik ditahan di bandara sini atau diikuti, untuk mendapatkan ‘orang-orang besar’ (gembongnya -pen). Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa tidur di malam hari … bahkan jika [Bali Nine] bersalah dan rela melakukannya, masih tidak layak hukuman mati. ” – Bob Lawrence, ayah dari Renae Lawrence, Oktober 2005.


bali-nine-trial-bob-lawrence-father-of-bali

Bob Lawrence, ayah dari Renae Lawrence beserta istrinya, tampak sedang menjenguk anaknya di penjara Bali. (Sydney Morning Herald, via: gettyimages).


Pada tanggal 13 Februari 2006, giliran orang tua Scott Rush memberikan wawancara kepada TV ABC Australia pada program acara Australian Story, ia berbicara menentang tindakan AFP (Australian Federal Police). Ibu Scot Rush mengatakan:
“I feel very let down by our Australian Federal Police – we tried to lawfully stop our son leaving the country, it wasn’t done….. “The Federal Police can do, go wherever they want, do anything, anytime without supervision from the Australian Attorney-General or from the Justice Minister.”…..”This is not good for Australians and our laws need to be changed to protect our citizens and this must not happen to any Australian citizen again.” — Christine Rush, mother of Scott Rush, February 2006. (theguardian.com)
“Saya merasa sangat dikecewakan oleh Polisi Federal Australia kita – kami telah mencoba untuk menghentikan anak kami untuk meninggalkan negara itu, namun hal itu tidak dilakukan ….. “Polisi Federal bisa melakukannya, pergi ke mana pun mereka mau, melakukan apa pun, kapan saja tanpa pengawasan dari Jaksa Agung Australia atau dari Menteri Kehakiman. “…..” Ini tidak baik untuk Australia dan hukum kita perlu diubah untuk melindungi warga negara kita dan ini tidak harus terjadi pada setiap warga negara Australia lagi.” — Christine Rush, ibu Scott Rush, Februari 2006.
Dari pernyataan mereka maka bisa disimpulkan bahwa pihak kepolisian Australia sudah mengetahuinya, dan lebih memilih untuk mengabari Polri dan menangkap serta menghukum mereka di Indonesia daripada menangkap mereka di Australia, di mana tidak ada hukuman mati disana sehingga kesembilan orang tersebut dapat selalu menghindari hukuman mati tersebut.
Mereka adalah pengedar kambuhan dan profesional. Sebenarnya bandar-bandar narkoba kelas international trafficking itu telah lama diketahui oleh pihak berwajib yang terkait di Australia. Mereka adalah bandar-bandar narkoba pesakitan dan tak akan pernah mau berubah, alias sudah masuk dalam daftar hitam (blacklist) di negara itu.


bali nine Scott Rush

Gambar atas: Kedua orang tua Scott Rush, ayahnya Lee Rush (kiri) dan ibunya Christine Rush (kanan). Gambar bawah: Scott Rush. (smh.com.au)


Namun jika mereka dihukum di Autralia, maka mereka akan tetap menjadi bandar dan selalu kembali mendapatkan jaminan keuangan.
Apalagi dengan tidak adanya hukuman mati di Australia, menyebabkan pihak berwajib dinegara itu justru memiliki dilema dan merasa serba salah.
Bagaimana cara “melenyapkan” para bandar itu dari Australia, agar tak ada lagi drugs trafficing yang membuat pusing pemerintahnya? Maka skenario pun dijalankan, dan tak jauh dari ranah hukum Australia sendiri, yaitu tetangganya, Indonesia, karena Indonesia masih menganut hukuman mati bagi para bandar narkoba.
Maka, pihak intelijen Australia lagi-lagi mengikuti perjalanan para gembong narkoba dari sindikat yang masuk dalam ‘The Bali Nine’ tersebut, yang selama ini menyusahkan pihak Australia sendiri.
Suatu saat jika mereka sedang berada di ranah tanah hukum Indonesia, pihak kepolisian Australia akan mengontak pihak kepolisian Indonesia agar menangkap mereka beserta barang bukti.
Setelah dinanti-nanti, para bandar narkoba itu akhirnya masuk ke Indonesia melalui Denpasar, pihak intelijen Australia yang telah mengendusnya, langsung mengontak kepolisian Denpasar agar menahan dan memeriksa barang bawaan mereka.
Dan benar saja, heroin dengan berat total 8,2 kilogram senilai US$. 3,1 juta dollar berhasil ditemukan. Karena mereka berada di dalam ranah hukum Indonesia, maka hukum di Indonesialah yang akan dijalani oleh mereka, yaitu melalui pengadilan Indonesia.


BALI NINE is a trap


Empat dari sembilan orang tersebut, Czugaj, Rush, Stephens, dan Lawrence ditangkap di Bandara Ngurah Rai saat sedang menaiki pesawat tujuan Australia.
Keempatnya ditemukan membawa heroin yang dipasang di tubuh. Andrew Chan ditangkap di sebuah pesawat yang terpisah saat hendak berangkat, namun pada dirinya tidak ditemukan obat terlarang.
Empat orang lainnya, Nguyen, Sukumaran, Chen dan Norman ditangkap di Hotel Melasti di Kuta karena menyimpan heroin sejumlah 350g dan barang-barang lainnya yang mengindikasikan keterlibatan mereka dalam usaha penyelundupan tersebut.
Vonis Pengadilan Kepada “The Bali Nine”
Berikut kronologi vonis, yang dijatuhkan kepada kelompok Bali Nine:
13 Februari 2006, Pengadilan Negeri Denpasar memvonis Lawrence dan Rush dengan hukuman penjara seumur hidup. Sehari kemudian, Czugaj dan Stephens menerima vonis yang sama. Sukumaran dan Chan, dua tokoh yang dianggap berperan penting, dihukum mati.
• 15 Februari 2006, Nguyen, Chen, dan Norman juga divonis penjara seumur hidup oleh para hakim.
26 April 2006, hukuman Lawrence, Nguyen, Chen, Czugaj dan Norman dikurangi menjadi 20 tahun penjara melalui banding, sementara hukuman seumur hidup Stephens tetap bertahan.


https://i2.wp.com/cdn4.wn.com/ph/img/b7/4c/6fb94832b165387058cb7fd11ddf-grande.jpg

Bali Nine (wn.com)


6 September 2006, diketahui bahwa Mahkamah Agung telah mengabulkan kasasi yang diajukan Kejaksaan Agung. Hukuman Czugac tetap menjadi hukuman seumur hidup, sementara hukuman Lawrence, Rush, Nguyen, Chen, dan Norman menjadi hukuman mati. Chan dan Sukumaran tetap dihukum mati, dan Stephens tetap dihukum seumur hidup.
13 Januari 2011, diketahui bahwa Mahkamah Agung menolak upaya hukuman luar biasa PK yang diajukan oleh Stephens, sehingga keputusan dikembalikan kembali kepada keputusan Pengadilan Negeri Denpasar, yaitu hukuman seumur hidup.
Keputusan Sidang Terhadap  “The Bali Nine”
Maka keputusan pengadilan telah secara final menentukan nasib mereka:
1. Andrew Chan (hukuman mati oleh regu tembak)
Ia berasal dari Enfield, New South Wales, dan dipenjara di Kerobokan, Bali.
2. Myuran Sukumaran (hukuman mati oleh regu tembak)
Ia berasal dari Auburn, New South Wales, Australia, dan dipenjara di Kerobokan, Bali.
3. Si Yi Chen (hukuman seumur hidup)
Ia berasal dari Doonside, New South Wales, Australia, dan dipenjara di Kerobokan, Bali.
4. Michael Czugaj (hukuman seumur hidup)
Berasal dari Oxley, Queensland, Australia, dan dipenjara di Kerobokan, Bali.
5. Tach Duc Thanh Nguyen (hukuman penjara seumur hidup)
Berasal dari Brisbane, Queensland, Australia, dan dipenjara di Malang, Jawa Timur.
6. Matthew Norman (hukuman penjara seumur hidup)
Berasal dari Sydney, New South Wales, Australia, dan dipenjara di Kerobokan, Bali.
7. Scott Rush (hukuman penjara seumur hidup)
Berasal dari Chelmer, Queensland, Australia, dan dipenjara di Karangasem, Bali.
8. Martin Stephens (hukuman penjara seumur hidup)
Berasal dari Towradgi, New South Wales, Australia, dan dipenjara di Malang, Jawa Timur.
9. Renae Lawrence (hukuman penjara 20 tahun)
Berasal dari Newcastle, New South Wales, Australia, dan dipenjara di Bangli, Bali.
Namun apapun yang terjadi terhadap para terdakwa tersebut, sebagai pemerintah sebuah negara, dalam hal ini Australia, mereka harus tetap berkewajiban melakukan segala upaya untuk dapat memperingan atau membebaskan warga negaranya walau sebagai terdakwa. Karena itulah salah satu strategi cari muka, dari sebuah permainan politik oleh para politikus.